Semakin hari Vinka tumbuh menjadi anak yang pintar dan kritis. Banyak sekali pertanyaannya yang diajukan dari apa yang dia lihat, dengar dan rasa. Sampai emaknya terkadang kudu googling internet untuk memberikan jawaban yang sebijak dan sebaik mungkin untuk Vinka.
Sadar kalau Vinka itu anak yang pintar, aku jadi galau gimana kalau suatu hari nanti Vinka nanya. Mamak punya prestasi apa? Jawaban apa yang bisa kuberi. Apa diterima bekerja di sebuah NGO sebelum lulus kuliah bisa disebut prestasi, pernah rangking 10 besar dari SD sampai SMP or 4 besar selama sekolah SMA bisa disebut prestasi. Semakin dipikir semakin aku bingung... dan galau tingkat dewa.
Untuk mengantisipasi tingkat galau, gundah gulana semakin menjajah aku mulai googling di internet dan membaca artikel mbak Leyla Hana yang sangat inspiratif mengenai mengapa dia menulis.
Sadar kalau Vinka itu anak yang pintar, aku jadi galau gimana kalau suatu hari nanti Vinka nanya. Mamak punya prestasi apa? Jawaban apa yang bisa kuberi. Apa diterima bekerja di sebuah NGO sebelum lulus kuliah bisa disebut prestasi, pernah rangking 10 besar dari SD sampai SMP or 4 besar selama sekolah SMA bisa disebut prestasi. Semakin dipikir semakin aku bingung... dan galau tingkat dewa.
Untuk mengantisipasi tingkat galau, gundah gulana semakin menjajah aku mulai googling di internet dan membaca artikel mbak Leyla Hana yang sangat inspiratif mengenai mengapa dia menulis.
Hebat banget tuh mbak Leyla Hanna dah punya anak tiga, tapi masih bisa bekarya sebagai blogger dan penulis novel serta menghasilkan puluhan novel luar biasa.
Jadi penasaran pengen jadi writer juga. Aku mulai mencari tahu seluk beluk dunia literasi. Dari timeline fb Asma Nadia, Aku mulai mengenal komunitas bisa menulis(KBM) dimana karya kita bisa dikomentari, diberi masukan, dan dikomentari langsung oleh sensei Isa Alamsyah dan mas Agung Pribadi.gratis...tis...tis.
Dan ternyata memang benar loh ketika cerpen perdanaku kupost di KBM selain sensei Isa dan mas Agung pribadi begitu banyak comment yang masuk dari member KBM lainnya sesuai dengan kapasitas mereka masing-masing. Tapi yang paling membekas di Ingatanku kritik dari sensei Agung Pribadi, kalau mau jadi penulis yang bagus harus rajin riset.
Lalu kucoba merevisi cerpen pertamaku tapi rasanya cerpen tuh memang parah, diutak-atik, kalau endingnya yang terkesan dipaksakan yaa permasalahnya di konflik yang masih datar atau pun pesan yang ingin disampaikan ke pembaca. Banyak banget deh, kayanya lebih bagus bikin cerpen baru daripada revisi cerpen Shopaholicku.
Akhirnya kucoba menulis puisi ada yang memuji ada juga mengkritisi miskin diksi, bahkan ada yang menyamakan puisiku mengenai kerinduan pada suami dengan membuat puisi dengan rima yang sama berjudul sepatu butut. Pelajaran kedua dari menulis. Jadi penulis itu harus tahan banting, nggak cemen kita nggak bisa maksa semua orang suka dengan apa yang kita tulis, tapi setidaknya kita sudah berusaha menulis yang terbaik yang kita mampu. Jadi mikir jangan-jangan memang aku yang nggak bakat nulis. Ternyata menjadi penulis tak semudah mebalikkan telapak tangan.
*****
Ada workshop tulis nusantara di Aceh. Wajib ikut neh, kalau nggak sekarang nggak akan pernah bisa ikut, kaya ginian. Aduh nggak tahu mo pake baju apa. Anak-anak juga semakin emaknya pengen cepat kok makin lama siapnya. Belum lagi ntar kira-kira boleh masuk nggak yaa kalau bawa anak. Galau lagi deh. Bismillah sajalah, kalau nggak dikasih masuk, ya udah pakai plan B. Makan bersama Vinka di ayam Pak Ulis tempat workshop di adakan.
Alhamdulillah banget meski terlambat dan bawa anak tetap diijinkan masuk oleh panitianya. walau dapat tempat duduk di bangku paling belakang dan tak ada meja tapi manfaat ikut workshop ini berasa banget. Dapat ilmu, bisa foto bareng rhein Fathia dan hadiah buku dari panitia karena kata peserta workshop pertanyaanku paling dirasakan manfaatnya. Wah jadi semangat lagi nulis. Pelajaran menjadi penulis no.3 kala mood kita hilang dalam menulis gali kembali motivasi mengapa kita menulis.
Jadi penulis itu syaratnya yaa harus rajin nulis. Tiap hari nulis, bakal ketemu taste tulisanya sendiri bakal ke genre mana. Untuk menguji tulisanku sudah bagus atau belum aku mulai memberanikan diri ikut lomba menulis dan kirim ke media. Pertama ikut lomba ditolak, kirim ke media nggak ada kabar tulisanku dimuat atau nggak.
Mungkin tulisanku kualitasnya kurang atau syaratnya yang kurang, mungkin kalau kirim ke media harus pakai fotokopi KTP kali yaa. Berbagai macam pertanyaan ada di kepala, Galau lagi deh. Dari teman-temanku yang sudah banyak mengikuti lomba menulis aku tahu jurus ampuh ikut lomba. Tulis dengan sebaik-baiknya, kirim dan lupakan, Kalau menang itu bonus berarti tulisan kita bagus dan disukai.
Dan resep itu ternyata berhasil untukku, jangan tanya berapa banyak lomba nulis yang aku ikut. Aku bakal lupa saking banyaknya. Tapi ada kepuasan sendiri setiap berhasil menyelesaikan satu tulisan. Aku juga menulis diblog, sambil mengasuh anak-anakku. Jadi sambil aku menulis di setengah layar laptop, setengah layar laptop satu lagi kusetel film kartun jadi anak-anakku lalai.
Hanya saja sepandai-pandainya aku menyiasati agar bisa menulis, dan menyimpan semua tulisan yang kubuat. Terkadang anak-anakku lebih kreatif ditinggal sebentar saja, Ada file tulisanku yang terdelete atau arsip blogku yang terhapus mana aku nulis seringkali nggak pakai draft jadi nggak bisa ditulis ulang.
*****
Setelah hampir satu tahun nulis. Akhirnya ada juga prestasi yang kuhasilkan. Sebenarnya nggak tahu aku menang kalau nggak dicolek teman-teman di fb yang ucapin selamat Ini diantaranya, Jadi penasaran pengen jadi writer juga. Aku mulai mencari tahu seluk beluk dunia literasi. Dari timeline fb Asma Nadia, Aku mulai mengenal komunitas bisa menulis(KBM) dimana karya kita bisa dikomentari, diberi masukan, dan dikomentari langsung oleh sensei Isa Alamsyah dan mas Agung Pribadi.gratis...tis...tis.
Dan ternyata memang benar loh ketika cerpen perdanaku kupost di KBM selain sensei Isa dan mas Agung pribadi begitu banyak comment yang masuk dari member KBM lainnya sesuai dengan kapasitas mereka masing-masing. Tapi yang paling membekas di Ingatanku kritik dari sensei Agung Pribadi, kalau mau jadi penulis yang bagus harus rajin riset.
Lalu kucoba merevisi cerpen pertamaku tapi rasanya cerpen tuh memang parah, diutak-atik, kalau endingnya yang terkesan dipaksakan yaa permasalahnya di konflik yang masih datar atau pun pesan yang ingin disampaikan ke pembaca. Banyak banget deh, kayanya lebih bagus bikin cerpen baru daripada revisi cerpen Shopaholicku.
Akhirnya kucoba menulis puisi ada yang memuji ada juga mengkritisi miskin diksi, bahkan ada yang menyamakan puisiku mengenai kerinduan pada suami dengan membuat puisi dengan rima yang sama berjudul sepatu butut. Pelajaran kedua dari menulis. Jadi penulis itu harus tahan banting, nggak cemen kita nggak bisa maksa semua orang suka dengan apa yang kita tulis, tapi setidaknya kita sudah berusaha menulis yang terbaik yang kita mampu. Jadi mikir jangan-jangan memang aku yang nggak bakat nulis. Ternyata menjadi penulis tak semudah mebalikkan telapak tangan.
*****
Ada workshop tulis nusantara di Aceh. Wajib ikut neh, kalau nggak sekarang nggak akan pernah bisa ikut, kaya ginian. Aduh nggak tahu mo pake baju apa. Anak-anak juga semakin emaknya pengen cepat kok makin lama siapnya. Belum lagi ntar kira-kira boleh masuk nggak yaa kalau bawa anak. Galau lagi deh. Bismillah sajalah, kalau nggak dikasih masuk, ya udah pakai plan B. Makan bersama Vinka di ayam Pak Ulis tempat workshop di adakan.
Alhamdulillah banget meski terlambat dan bawa anak tetap diijinkan masuk oleh panitianya. walau dapat tempat duduk di bangku paling belakang dan tak ada meja tapi manfaat ikut workshop ini berasa banget. Dapat ilmu, bisa foto bareng rhein Fathia dan hadiah buku dari panitia karena kata peserta workshop pertanyaanku paling dirasakan manfaatnya. Wah jadi semangat lagi nulis. Pelajaran menjadi penulis no.3 kala mood kita hilang dalam menulis gali kembali motivasi mengapa kita menulis.
Foto bareng Rhein Fathia kali aja bisa ketularan bakat nulisnya |
Jadi penulis itu syaratnya yaa harus rajin nulis. Tiap hari nulis, bakal ketemu taste tulisanya sendiri bakal ke genre mana. Untuk menguji tulisanku sudah bagus atau belum aku mulai memberanikan diri ikut lomba menulis dan kirim ke media. Pertama ikut lomba ditolak, kirim ke media nggak ada kabar tulisanku dimuat atau nggak.
Mungkin tulisanku kualitasnya kurang atau syaratnya yang kurang, mungkin kalau kirim ke media harus pakai fotokopi KTP kali yaa. Berbagai macam pertanyaan ada di kepala, Galau lagi deh. Dari teman-temanku yang sudah banyak mengikuti lomba menulis aku tahu jurus ampuh ikut lomba. Tulis dengan sebaik-baiknya, kirim dan lupakan, Kalau menang itu bonus berarti tulisan kita bagus dan disukai.
Dan resep itu ternyata berhasil untukku, jangan tanya berapa banyak lomba nulis yang aku ikut. Aku bakal lupa saking banyaknya. Tapi ada kepuasan sendiri setiap berhasil menyelesaikan satu tulisan. Aku juga menulis diblog, sambil mengasuh anak-anakku. Jadi sambil aku menulis di setengah layar laptop, setengah layar laptop satu lagi kusetel film kartun jadi anak-anakku lalai.
Hanya saja sepandai-pandainya aku menyiasati agar bisa menulis, dan menyimpan semua tulisan yang kubuat. Terkadang anak-anakku lebih kreatif ditinggal sebentar saja, Ada file tulisanku yang terdelete atau arsip blogku yang terhapus mana aku nulis seringkali nggak pakai draft jadi nggak bisa ditulis ulang.
*****
- https://www.facebook.com/notes/gema-sastra-publishing/up-date-final-kontributor-gema-cipta-1/583334181712932
- https://www.facebook.com/pages/Writing-Revolution/137374743017113?hc_location=timeline. Harie Khairiah, judul “Kartini Vs Aku”.Para Nominator berhak mendapatkan buku "Cara Dahsyat Menulis Cerpen dengan Otak Kanan" + Beasiswa SMCO Writing Revolution.
- Ada satu cerpenku di buku A Letter fo My Prince dengan judul "Cinta Seratus Ribu"
- Di buku Puisi untuk negeri, ada satu puisiku
- Di buku Sejuta Rasa Untuk Ayah ada dua puisiku berjudul serpihan cinta ayah dan maaf untuk ayah
- Dan terakhir Sensei Isa Alamsyah langsung yang manggil di fb KBM kalau puisiku dimuat di buku catatan hati pengantin. Dan ketika kuterima bukunya ternyata nggak hanya satu puisiku yang dimuat disitu tapi ada dua. Alhamdulillah ...
Meski begitu aku belum puas dan tetap galau karena belum punya buku dengan namaku sendiri, dan karyaku sendiri dalam satu buku. Kalau nanti dah punya buku aku juga tetap galau untuk melahirkan buku-bukuku yang lain. Dan berharap bukuku bukan buku yang sekali cetak dan langsung hilang dari peredaran. Semoga aku bisa menghasilkan buku yang menginsipirasi orang untuk menjadi baik dan tentunya jadi best seller. Ya, Rabb jadi writer wanna be itu membuat Galauku tiada henti.
Tulisan ini diikutsertakan dalam GA-Ya Rabb Aku Galau
sukses GA-nya ya mak:)
ReplyDeleteAamiin makasih mak Erlina Fitriani
Deletewah, kak udah jadi penulis.. hebat.. :)
Deletedi tunggu ya kunjungan baliknya. hehe
alhamdulillah masih penulis antalogi belum buku sendiri...sip segera ke tkp
DeleteGalau yang menghasilkan ya, Kak :D
ReplyDeletealhamdulillah menghasilkan makasih dah mampir cut
DeleteWah keren mak Harie bukunya udh banyak...keep on writing mbak ;) srmoga aku bisa mengikuti jejakmu :)
ReplyDeletemak muna sungkar merendah neh, padahal karyanya lebih banyak
DeleteGalau produktif ... Sempat selama beberapa minggu saya melakukan kebijaksanaan "one day one posting", namun tidak tau mengapa tiba-tiba tidak tergerak lagi untuk menulis. Ya, barangkali kurang membaca juga dapat berpengaruh, ya kak? :-)
ReplyDeleteIya Azhar, baca buku yang banyak. itu makanan penulis resepnya
Delete